Selasa, 23 Februari 2016

Menjaga Keselamatan Anak Di Dunia Maya

Sumber gambar: Video Child Online Protection - ICTWatch
"Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan." Begitulah definisi anak menurut UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dan anak di era sekarang ini sudah masuk di dalam kelompok digital native, yaitu orang-orang yang sejak lahir sudah lekat dengan teknologi digital. Bahkan tidak jarang mereka sudah terekspos di internet bahkan sebelum sejak lahir ketika orang tuanya memposting foto USG ke facebook. Generasi inilah yang melihat internet, media sosial, smart phone, tablet, laptop dan sebagainya, sebagai bagian dari keseharian mereka. Banyak manfaat yang dapat diperoleh mereka dari teknologi yang dikenal juga sebagai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ini, mulai dari hiburan, pendidikan, bermain, belajar, berkomunikasi dan sebagainya. Anak bungsu saya, contohnya, senang sekali menggambar dan melakukan aktivitas kreatif lainnya, padahal orang tuanya (apalagi bapaknya) seorang tuna seni, yang menggambar orang saja tidak bisa. Maka dia mencari "guru menggambar" di Youtube, dan dalam waktu singkat memenuhi meja belajarnya dengan tumpukan gambar hasil tuntunan "sang guru". Tentunya tetap dalam pengawasan saya sebagai orang tuanya.

Jumat, 29 Januari 2016

Statistik Internet Indonesia 2016

Photo by +mataharitimoer | internetsehat.id
Internet tidak dapat dipungkiri sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tinggal di kota-kota besar. Beragam aktivitas sehari-hari dilakukan dengan dukungan teknologi ini, sebut saja untuk berbelanja, belajar, bekerja, mencari jalan, mempromosikan usaha, berkomunikasi dan sebagainya. Akan tetapi tahukah kamu berapa banyak pengguna internet di Indonesia? Apa yang paling banyak mereka lakukan ketika menggunakan internet? Berapa lama rata-rata mereka menggunakan internet? Apakah dampak pemanfaatan internet bagi ekonomi dan sosial negara Indonesia?


Selasa, 29 September 2015

7 Kekurangan dari Ojek Online

Kota Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia saat ini tengah kedatangan "mainan" baru di bidang transportasi publik: Ojek Online. Ya, saat ini penduduk di kota-kota tersebut, dapat dengan mudah meminta antar-jemput dari tukang ojek melalui aplikasi yang terpasang di gawai (gadget) tanpa harus mencari mereka dulu di pangkalan. Di Jakarta sendiri Ojek Online dipelopori oleh Go-Jek, yang kemudian disusul oleh Grab Bike, dan pendatang baru Blu-Jek. Selain kemudahan, penggunaan ojek online ini juga memberikan keuntungan lain buat penggunanya, sebut saja tarif yang sudah ditetapkan terlebih dahulu melalui aplikasi (tidak perlu tawar menawar lagi), bisa dipanggil di mana saja (misalnya jika kita tengah menunggu di pinggir jalan), harga promo, adanya layanan tambahan seperti pesan makanan, kirim barang dan sebagainya. Dan tulisan ini tidak akan membahas segala kelebihan itu karena sudah banyak tulisan lain yang membahasnya. Tapi di balik semua kemudahan dan keunggulan tersebut, ternyata masih terdapat kekurangan-kekurangan Ojek Online ini yang masih dapat kita temukan, khususnya dari sisi pengguna. Apa saja itu? Berikut 7 kekurangan dari ojek online yang coba saya rangkum:


Rabu, 01 April 2015

Wisata Istanbul (6) - Turkish Delight, Baklava dan Apple Tea Cafe

Turkish Delight aneka rasa
Belum lengkap rasanya jika menikmati suasana kota Istanbul, tanpa mencicipi kudapan yang menjadi ciri khas dari Turki: Turkish Delight. Ya inilah kudapan manis yang terkenal seantero dunia. Teksturnya kenyal seperti jel yang keras, dengan pilihan rasa yang beraneka ragam. Kacang pistachio, hazelnut, kurma dan sebagainya menjadi "isi" dari turkish delight ini, dengan pilihan aneka rasa seperti buah delima, jeruk, rosewater, lemon dan sebagainya. Dalam satu toko, kita bisa menemukan puluhan varian turkish delight yang dijual. Dan buat saya ada harga ada rupa, varian turkish delight yang mahal memberikan rasa yang lebih memanjakan indera pengecap dibanding yang dijual dengan harga yang lebih murah.

Selasa, 13 Januari 2015

Wisata Istanbul (5) - Hagia Sophia

Kaligrafi Allah dan Muhammad yang mengapit lukisan Bunda Maria dan Bayi Jesus
Mungkin inilah satu-satunya bangunan di dunia yang menampilkan simbol-simbol dari agama Islam dan Kristiani secara berdampingan. Hagia Sophia (atau dalam bahasa Turki: Aya Sofia) yang berarti Holy Wisdom, memang menyimpan sejarah panjang sejak dibangunnya di tahun 360 pada era Kekaisaran Byzantium atau yang dikenal juga sebagai Kekaisaran Romawi Timur. Pada awalnya, Hagia Sophia merupakan sebuah gereja utama yang dibangun oleh Kaisar Constantius II. Gereja ini hancur di tahun 404 akibat kerusuhan yang terjadi hingga hampir tidak ada yang tersisa. Gereja ini dibangun kembali di tahun 415 oleh Kaisar Theodosios II. Akan tetapi di tahun 532 bangunan ini kembali hancur karena kerusuhan yang terjadi di kekaisaran tersebut. Bangunan yang dapat kita lihat sekarang merupakan bangunan gereja ketiga yang kembali dibangun oleh Kaisar Justinian I hanya beberapa minggu setelah kerusuhan tersebut, dengan jauh lebih besar dan lebih megah dibanding bangunan sebelumnya. Dengan sentuhan dari arsitek Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles), Hagia Sophia dimulai pembangunannya di tahun 532 dan selesai lima tahun kemudian. Sejak saat itu beberapa renovasi seperti penambahan bagian bangunan ataupun perbaikan kerusakan (seperti kerusakan setelah gempa bumi) dilakukan karena Hagia Sophia merupakan gereja resmi kekaisaran, tempat dimana seorang kaisar dilantik. Di tahun 1435, Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukan kota Konstantinopel dan langsung menjadikan Hagia Sophia sebagai mesjid . Simbol-simbol kristiani ditutup dan digantikan dengan simbol-simbol Islami. Selain itu madrasah, mimbar, tempat muadzin dan sebagainya dibangun sebagai pelengkap Hagia Sophia yang telah menjadi mesjid kekaisaran pertama di Istanbul. Setelah runtuhnya kekhalifahan utsmaniyah, Presiden Turki pertama Mustafa Kemal Atatürk di tahun 1935 mengubah fungsi Hagia Sophia sebagai sebuah museum hingga saat ini, dan plester-plester yang menutup lukisan mosaic peninggalan kekaisaran roma kembali dibuka sehingga berdampingan dengan kaligrafi-kaligrafi yang dihasilkan di masa Khalifah Utsmaniyah..

Senin, 12 Januari 2015

Kartu Nama, masih perlu gak sih?

"Ini era digital, semua data disimpan dalam bentuk digital sehingga penggunaan kertas pun dapat jauh berkurang (paperless)". Kalimat seperti itu mungkin sering kita dengar belakangan ini ketika komputer, acang (gadget) dan internet menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, khususnya yang tinggal di kota besar. Akan tetapi di antara gegap gempita serta keriuhan akan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi di tengah kita tersebut, tetap ada bagian-bagian non-digital yang bagi saya tidak akan tergantikan. Ketika tatap mata tidak akan bisa tergantikan oleh tatap layar, hangatnya canda tawa tidak akan tergantikan oleh teks "wkwkwkwkwkwk" dan senyuman tulus yang sulit diganti dengan hanya sebuah simbol :). Ya, terdapat banyak hal di hidup ini yang tidak bisa digantikan oleh canggihnya peralatan teknologi yang kita miliki.

Dan salah satunya adalah Kartu Nama. Kenapa? Bukankah kartu nama hanya sekedar kumpulan data dalam sebuah kertas berukuran sebesar 85 x 55 mm?

Selasa, 23 Desember 2014

Wisata Istanbul (4) - Senja di Galata Bridge

Pemandangan Kota Tua Konstantinopel dari atas Galata Bridge
Jika berwisata ke Istanbul, sempatkan waktu untuk menikmati senja di Galata Bridge, sebuah jembatan yang membentang di Golden Horn. Golden Horn adalah sebuah jalur air utama di kota Istanbul yang merupakan inlet dari selat Bosphorus. Jika dilihat dari udara jalur air ini berbentuk seperti tanduk (horn), oleh karenanya lah disebut sebagai Golden Horn. Dari atas Galata Bridge ini kita bisa melihat bangunan-bangunan di kota tua Constantinopel yang berdiri dengan megah nan indah. Di sore hari, pemandangan dari atas jembatan ini lebih indah dengan lampu aneka warna dari kapal-kapal kecil penjaja Balik Ekmek alias fish sandwich, juga dari kapal-kapal besar yang mengantar para wisawatan menyusuri Selat Bosphorus. Hal ini ditimpali dengan cuitan burung camar yang terbang bebas di perairan sekitar jembatan ini. Di sepanjang jembatan Galata ini juga sepanjang hari dapat kita temukan banyak pemancing yang melempar kailnya, walau dekat daratan tampaknya masih banyak ikan yang berkeliaran di sini. Menjelang terbenamnya matahari merupakan saat yang tepat untuk berada di Galata Bridge, mengambil photo sambil menikmati hembusan angin laut yang sejuk.

Minggu, 21 Desember 2014

Wisata Istanbul (3) - Blue Mosque Istanbul

Blue Mosque - Istanbul
Salah satu destinasi wisata religi yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke kota Istanbul - Turki, adalah Blue Mosque, sebuah mesjid indah yang memiliki nilai historis tinggi. Blue Mosque ini bernama asli Mesjid Sultan Ahmed (atau Sultan Ahmet Camii dalam bahasa Turki), dibangun pada tahun 1609 - 1616 di masa pemerintahan Sultan Ahmed I. Dinamakan blue mosque karena keramik biru yang menghiasi interior mesjid yang megah ini. Mesjid ini menjadi bangunan utama di kawasan Sultan Ahmed Square, dan menjadi tempat ibadah sekaligus destinasi wisata. Blue Mosque ditutup ketika datangnya waktu shalat lima waktu selama kurang lebih 90menit setelah adzan, kecuali bagi Muslim yang akan menjalankan shalat, akan tetapi kita masih bisa masuk ke dalam gerbangnya yang hanya ditutup bada isya (sekitar pukul 9 malam) sampai tibanya waktu shalat subuh.
Di bagian luar mesjid ini kita dapat melihat 6 menara mesjid yang tinggi, dimana zaman dahulu muadzin harus naek ke menara tersebut melalui tangga spiral yang tinggi untuk mengumandangkan adzan. Akan tetapi saat ini panggilan adzan bisa kita dengarkan melaui pengeras suara yang dapat didengar menjangkau wilayah kota tua di Istanbul ini.

Jumat, 10 Oktober 2014

Wisata Istanbul (2) - Topkapi Palace Museum

Sumber Gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Topkapi_Palace_Seen_From_Harem.JPG
Pagi yang cerah di tanggal 31 Agustus 2014, itulah pertama kali saya menginjakkan kaki di Bandara Internasional Ataturk - Istanbul setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 13 jam dari Jakarta dengan Turkish Airlines (termasuk transit di Singapura). Saya langsung menuju hotel tempat saya menginap: Hotel Arden Park. Hotel ini berada di kawasan Sultanahmet, sebuah kawasan wisata sejarah di Istanbul. Kamarnya kecil, tapi bersih dan yang jelas strategis, karena sangat dekat dengan beragam destinasi wisata di kota ini seperti: Topkapi Palace, Haghia Sophia, Blue Mosque, Grand Bazaar, Eminonu dan sebagainya. Check in dan simpan barang di hotel (karena kamar belum siap), saya bersama rekan-rekan lain langsung meluncur ke Topkapi Palace.

Selasa, 23 September 2014

Wisata Turki (1) - Mudahnya Membuat Visa Turkey

Di tahun 2014 ini saya dapat kesempatan untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di sebuah negara yang terkenal akan warisan sejarahnya, Turki. Saya akan membuat serial tulisan untuk sharing pengalaman kunjungan saya di negara ini , tepatnya di kota Istanbul. Pertama tentunya adalah persiapan sebelum berangkat: mengurus Visa. Ya, warga Indonesia berpaspor hijau masih harus mengurus visa untuk dapat mengunjungi negara ini. Tetapi, berbeda dengan negara lain, mengurus Visa Turki sangatlah mudah dan semua dikerjakan online, tanpa harus datang ke kedubesnya. Ya sudah tersedia layanan Electronic Visa yang bisa kita akses via internet untuk mendapatkan izin masuk ke Turki. Bagaimana caranya? Berikut langkah-langkahnya:

Tampilan Situs www.evisa.gov.tr/en/
Pertama, masuk ke situs e-Visa Republic of Turkey: https://www.evisa.gov.tr/en/. Tertulis 3 langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan e-Visa: Apply - Payment - Download. Jadi langkah pertama adalah klik "Apply Now" untuk melakukan registrasi. Di halaman pertama kita cukup memasukkan asal negara dan jenis passport (pilih ordinary passport untuk passport biasa, jangan alien's passport hehehe). Setelah memasukkan kode verifikasi klik "Save and Continue".