Selasa, 29 September 2015

7 Kekurangan dari Ojek Online

Kota Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia saat ini tengah kedatangan "mainan" baru di bidang transportasi publik: Ojek Online. Ya, saat ini penduduk di kota-kota tersebut, dapat dengan mudah meminta antar-jemput dari tukang ojek melalui aplikasi yang terpasang di gawai (gadget) tanpa harus mencari mereka dulu di pangkalan. Di Jakarta sendiri Ojek Online dipelopori oleh Go-Jek, yang kemudian disusul oleh Grab Bike, dan pendatang baru Blu-Jek. Selain kemudahan, penggunaan ojek online ini juga memberikan keuntungan lain buat penggunanya, sebut saja tarif yang sudah ditetapkan terlebih dahulu melalui aplikasi (tidak perlu tawar menawar lagi), bisa dipanggil di mana saja (misalnya jika kita tengah menunggu di pinggir jalan), harga promo, adanya layanan tambahan seperti pesan makanan, kirim barang dan sebagainya. Dan tulisan ini tidak akan membahas segala kelebihan itu karena sudah banyak tulisan lain yang membahasnya. Tapi di balik semua kemudahan dan keunggulan tersebut, ternyata masih terdapat kekurangan-kekurangan Ojek Online ini yang masih dapat kita temukan, khususnya dari sisi pengguna. Apa saja itu? Berikut 7 kekurangan dari ojek online yang coba saya rangkum:


Rabu, 01 April 2015

Wisata Istanbul (6) - Turkish Delight, Baklava dan Apple Tea Cafe

Turkish Delight aneka rasa
Belum lengkap rasanya jika menikmati suasana kota Istanbul, tanpa mencicipi kudapan yang menjadi ciri khas dari Turki: Turkish Delight. Ya inilah kudapan manis yang terkenal seantero dunia. Teksturnya kenyal seperti jel yang keras, dengan pilihan rasa yang beraneka ragam. Kacang pistachio, hazelnut, kurma dan sebagainya menjadi "isi" dari turkish delight ini, dengan pilihan aneka rasa seperti buah delima, jeruk, rosewater, lemon dan sebagainya. Dalam satu toko, kita bisa menemukan puluhan varian turkish delight yang dijual. Dan buat saya ada harga ada rupa, varian turkish delight yang mahal memberikan rasa yang lebih memanjakan indera pengecap dibanding yang dijual dengan harga yang lebih murah.

Selasa, 13 Januari 2015

Wisata Istanbul (5) - Hagia Sophia

Kaligrafi Allah dan Muhammad yang mengapit lukisan Bunda Maria dan Bayi Jesus
Mungkin inilah satu-satunya bangunan di dunia yang menampilkan simbol-simbol dari agama Islam dan Kristiani secara berdampingan. Hagia Sophia (atau dalam bahasa Turki: Aya Sofia) yang berarti Holy Wisdom, memang menyimpan sejarah panjang sejak dibangunnya di tahun 360 pada era Kekaisaran Byzantium atau yang dikenal juga sebagai Kekaisaran Romawi Timur. Pada awalnya, Hagia Sophia merupakan sebuah gereja utama yang dibangun oleh Kaisar Constantius II. Gereja ini hancur di tahun 404 akibat kerusuhan yang terjadi hingga hampir tidak ada yang tersisa. Gereja ini dibangun kembali di tahun 415 oleh Kaisar Theodosios II. Akan tetapi di tahun 532 bangunan ini kembali hancur karena kerusuhan yang terjadi di kekaisaran tersebut. Bangunan yang dapat kita lihat sekarang merupakan bangunan gereja ketiga yang kembali dibangun oleh Kaisar Justinian I hanya beberapa minggu setelah kerusuhan tersebut, dengan jauh lebih besar dan lebih megah dibanding bangunan sebelumnya. Dengan sentuhan dari arsitek Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles), Hagia Sophia dimulai pembangunannya di tahun 532 dan selesai lima tahun kemudian. Sejak saat itu beberapa renovasi seperti penambahan bagian bangunan ataupun perbaikan kerusakan (seperti kerusakan setelah gempa bumi) dilakukan karena Hagia Sophia merupakan gereja resmi kekaisaran, tempat dimana seorang kaisar dilantik. Di tahun 1435, Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukan kota Konstantinopel dan langsung menjadikan Hagia Sophia sebagai mesjid . Simbol-simbol kristiani ditutup dan digantikan dengan simbol-simbol Islami. Selain itu madrasah, mimbar, tempat muadzin dan sebagainya dibangun sebagai pelengkap Hagia Sophia yang telah menjadi mesjid kekaisaran pertama di Istanbul. Setelah runtuhnya kekhalifahan utsmaniyah, Presiden Turki pertama Mustafa Kemal Atatürk di tahun 1935 mengubah fungsi Hagia Sophia sebagai sebuah museum hingga saat ini, dan plester-plester yang menutup lukisan mosaic peninggalan kekaisaran roma kembali dibuka sehingga berdampingan dengan kaligrafi-kaligrafi yang dihasilkan di masa Khalifah Utsmaniyah..

Senin, 12 Januari 2015

Kartu Nama, masih perlu gak sih?

"Ini era digital, semua data disimpan dalam bentuk digital sehingga penggunaan kertas pun dapat jauh berkurang (paperless)". Kalimat seperti itu mungkin sering kita dengar belakangan ini ketika komputer, acang (gadget) dan internet menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, khususnya yang tinggal di kota besar. Akan tetapi di antara gegap gempita serta keriuhan akan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi di tengah kita tersebut, tetap ada bagian-bagian non-digital yang bagi saya tidak akan tergantikan. Ketika tatap mata tidak akan bisa tergantikan oleh tatap layar, hangatnya canda tawa tidak akan tergantikan oleh teks "wkwkwkwkwkwk" dan senyuman tulus yang sulit diganti dengan hanya sebuah simbol :). Ya, terdapat banyak hal di hidup ini yang tidak bisa digantikan oleh canggihnya peralatan teknologi yang kita miliki.

Dan salah satunya adalah Kartu Nama. Kenapa? Bukankah kartu nama hanya sekedar kumpulan data dalam sebuah kertas berukuran sebesar 85 x 55 mm?