Selasa, 23 Februari 2016

Menjaga Keselamatan Anak Di Dunia Maya

Sumber gambar: Video Child Online Protection - ICTWatch
"Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan." Begitulah definisi anak menurut UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dan anak di era sekarang ini sudah masuk di dalam kelompok digital native, yaitu orang-orang yang sejak lahir sudah lekat dengan teknologi digital. Bahkan tidak jarang mereka sudah terekspos di internet bahkan sebelum sejak lahir ketika orang tuanya memposting foto USG ke facebook. Generasi inilah yang melihat internet, media sosial, smart phone, tablet, laptop dan sebagainya, sebagai bagian dari keseharian mereka. Banyak manfaat yang dapat diperoleh mereka dari teknologi yang dikenal juga sebagai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ini, mulai dari hiburan, pendidikan, bermain, belajar, berkomunikasi dan sebagainya. Anak bungsu saya, contohnya, senang sekali menggambar dan melakukan aktivitas kreatif lainnya, padahal orang tuanya (apalagi bapaknya) seorang tuna seni, yang menggambar orang saja tidak bisa. Maka dia mencari "guru menggambar" di Youtube, dan dalam waktu singkat memenuhi meja belajarnya dengan tumpukan gambar hasil tuntunan "sang guru". Tentunya tetap dalam pengawasan saya sebagai orang tuanya.


Ancaman di Dunia Maya
Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, internet layaknya koin yang bermata dua. Di satu sisi menunjukkan sisi positifnya yang penuh manfaat, tapi di sisi lainnya menyimpan potensi ancaman bagi sang anak. Layaknya gunung es, ancaman yang paling terlihat dan sering dibicarakan adalah banyaknya konten negatif yang berkeliaran di internet, apakah itu pornografi, kekerasan, dan sebagainya. Tapi tidak hanya itu, terdapat ancaman lainnya yang mungkin tidak terlalu banyak dibicarakan orang seperti privacy, kecanduan (addiction), cyber bully, dan predator online.

Berbagai kasus terkait hal di atas sering kita temukan di pelbagai media, seperti penculikan oleh teman di Facebook, kecanduan game online, sampai kasus pedofilia online. Sebagai contoh di awal tahun 2014, kota Surabaya digegerkan oleh dengan kasus kejahatan online yang dilakukan oleh seorang manager perusahaan kepada anak-anak SD. Sang pelaku membuat akun Facebook dengan berpura-pura menjadi dokter muda perempuan. Dengan akun tersebut dia menyasar anak-anak SD kelas 5 dan 6 dan melakukan grooming untuk mendekati mereka. Grooming adalah suatu proses dimana si pelaku membangun kedekatan emosional dengan si korban, dengan tujuan untuk meraih rasa percaya sehingga pada akhirnya korban dapat diperdaya dan dieksploitasi oleh si pelaku. Dalam kasus ini si pelaku yang menyaru sebagai seorang dokter (dan dia memang lulusan kedokteran walau bukan berprofesi sebagai dokter), menawarkan konsultasi seksual kepada si anak dan berhasil memperdaya mereka untuk dapat mengirimkan foto bugilnya. Foto ini kemudian digunakan pelaku untuk dipertukarkan di komunitas pedofil internasional, juga disebarkan melalui Facebook dan Kaskus. Pihak kepolisian, melalui kerjasama dengan penggiat internet dan ibu korban, akhirnya berhasil menangkap sang pelaku yang  kini tengah menjalani hukuman penjara. Beritanya dapat dibaca di sini.

Di youtube kita juga bisa menemukan video sebuah "social experiment" yang dibuat di Amerika Serikat, dimana eksperimen ini dilakukan untuk memperlihatkan bagaimana anak-anak dapat mudah diperdaya dan dijebak untuk bertemu dengan orang yang baru dikenalnya di Facebook, tanpa menyadari akan bahaya yang dapat menimpanya. Video ini dibuat dua versi untuk anak perempuan yang bisa dilihat di sini, dan untuk anak laki-laki yang bisa dilihat di sini.

Peran orang tua dan keluarga sebagai lingkungan terdekat menjadi sangat signifikan dalam mendampingi dan mengarahkan anak dalam pemanfaatan teknologi ini. Berbagai hal terkait isu di atas dan juga bagaimana seharusnya orang tua bersikap di era digital ini dalam membimbing generasi digital native saya coba buatkan dalam satu presentasi yang bisa dilihat dan diunduh pada tautan di bawah. Jika sudah diunduh, pada setiap salindia (slide) presentasi tersebut akan terdapat catatan yang menerangkan maksud dari salindia tersebut. Sehingga diharapkan presentasi ini dapat digunakan oleh siapa saja, khususnya orang tua, yang ingin mendorong pemanfaatan internet bagi anak, termasuk penggiat internet dan anak yang akan berbagi tentang hal ini di lingkungannya.





Silakan klik tombol share di bawah untuk membagikan artikel ini

Posting Terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar