AI dapat menghasilkan kalimat empatik, tetapi tidak mengalami empati seperti manusia. AI dapat meniru kehangatan dalam bahasa, tetapi tidak mempunyai kasih sayang, kepedulian, atau tanggung jawab moral.
Kalimat itu saya kutip dari buku tulisan Prof Onno W. Purbo: "Anak Tangguh di Era AI", dan saya sampaikan ulang pada kegiatan Seminar Digital Parenting - Mendampingi Remaja Di Era AI, yang diselenggarakan oleh PMOG SMA Alfa Centauri Bandung (19/9). Seminar yang dihadiri para orang tua murid siswa-siswa SMA Alfa Centaury ini memang bertujuan untuk berbagi berbagai tantangan yang dihadapi orang tua saat ini, ketika teknologi digital termasuk Kecerdasan Artifisial (AI), menjadi keseharian dari anak-anaknya. Dalam sambutannya, Kepala SMA Alfa Centauri, Agus Rustandi, menyampaikan bahwa ini adalah kesempatan berharga untuk para orang tua untuk dapat belajar. "Teknologi digital, termasuk AI, berkembang dengan cepat. Orang tua tidak boleh ketinggalan untuk memahaminya agar dapat mendampingi anak-anak", ujarnya.
Saya diminta menjadi pembicara pertama untuk menyampaikan terkait peluang dan risiko AI di dunia remaja. Dibuka dengan tentang digital gap, paradigma melihat dunia digital yang berbeda antara orang tua dan anak. Materi dilanjutkan dengan penjelasan bagaimana AI bekerja, serta peluang yang muncul buat anak remaja jika AI dipergunakan dengan benar. Kemudian disampaikan juga risiko yang muncul, mulai dari yang kasat mata seperti bias dan halusinasi, pelanggaran privasi, disinformasi, deepfake dan sebagainya, sampai yang tak kasat mata, namun menjadi tantangan utama saat ini, seperti kemampuan koginitif yang tidak terasah serta isu kesehatan mental yang muncul.
Di bagian akhir saya bercerita tentang bagaimana orang tua dapat mengambil peran dalam mendampingi remaja di era AI ini, tentang pentingnya 4C (Character, Critical Thinking, Creative & COmmunication) yang harus selalu dikembangkan oleh setiap orang agar tidak tergerus oleh AI, apa yang perlu diamati dari perubahan perilaku anak dan bagaimana orang tua harus bersikap, serta prinsip TEMANI yang bisa dilakukan orang tua.
Pembicara berikutnya adalah Utami Kania, Guru BK dari SMA Alfa Centauri, yang memaparkan tentang bagaimana prinsip-prinsip digital parenting, dengan judul paparan "Cinta, Batas dan Algoritma". Utami memaparkan peran orang tua dalam membersamai anak melalui promotif dan preventif, gangguan emosional yang dapat muncul akibat dunia digital, fenomena perilaku dan perubahan pola interaksi remaja, serta pentingnya keterlibatan orang tua dalam perkembangan remaja di era AI.
Para peserta menyambut baik dengan kegiatan ini dan mereasa terbantu dengan materi seminar ini. Ibu Irma misalnya, menyampaikan bahwa seharusnya materi ini yang dia cari sejak anaknya pertama memegang smartphone sekitar 9 tahun lalu, kebingungan yang dia rasakan sejak saat itu banyak mendapatkan jawabannya pada pertemuan ini. Peserta lainnya, Ibu Wida, juga menyampaikan apresiasinya karena materi yang disampaikan relate dengan kebutuhan orang tua saat ini.
Di bagian akhir paparan, saya kembali menuliskan kutipan dari buku Prof. Onno: “Kita tidak sedang menyiapkan anak untuk bersaing melawan AI; kita sedang menyiapkan mereka agar mampu menggunakan AI tanpa menyerahkan privasi, kejujuran, daya pikir, karakter, dan kemanusiaannya”.
Untuk materi lebih lengkapnya dapat diakses di tautan berikut:
Untuk materi lebih lengkapnya dapat diakses di tautan berikut:
Mendampingi Remaja di Era AI — ICT Watch by Indriyatno Banyumurti
Dan untuk streaming kegiatan dapat ditonton kembali di tautan berikut:
Komentar
Posting Komentar