Pelaku grooming dengan mudah memanipulasi anak karena mereka berhasil mengisi kebutuhan emosional atau "gelas kosong" di dalam diri anak yang tidak atau belum dipenuhi oleh orang-orang terdekat di rumah
Petikan kalimat di atas saya ambil dari Vera Itabiliana, psikolog remaja dan anak, saat kami menjadi narasumber di salah satu episode Dialog Prime News CNN TV yang bertajuk "Child Grooming, Upaya Perlindungan Anak di Ruang Digital". Vera juga menegaskan child grooming merupakan proses bertahap yang membutuhkan waktu lama, bukan peristiwa yang terjadi secara instan, Pelaku memulainya secara terselubung dengan memberikan perhatian, pujian, dan rasa nyaman (misalnya bermula dari komunitas atau grup game online), sebelum akhirnya mengarahkan anak ke jalur percakapan pribadi (private chat). Sejak awal, pelaku memang berniat jahat untuk mengeksploitasi anak, baik secara seksual maupun finansial.
Hal ini diperkuat oleh Ai Maryati, Komisioner KPAI, yang menyampaikan bahwa kurangnya komunikasi dan pengawasan yang suportif membuat kepercayaan anak tergerus, sehingga anak mencari ruang lain untuk bercerita. Berdasarkan survei KPAI (2021), sebanyak 70% responden menyatakan tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak mengenai penggunaan gadget saat anak diberi akses internet. Oleh karena itu penanganan child grooming membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem, mulai dari penguatan implementasi regulasi, tanggung jawab penyelenggara platform digital/PSE, hingga sistem pengasuhan nyata di lingkungan keluarga.
Mewakili ICT Watch, saya juga mencoba memberikan perspektif terkait pelindungan anak di ruang digital ini. Upaya yang dilakukan secara kolaboratif dari hulu ke hilir. Di hulu, pemerintah harus dapat memastikan regulasi dapat ditegakkan dengan baik seraya terus meningkatkan kapasitas literasi digital khususnya kepada orang tua, guru, dan pengasuh anak. Di tengah, Platform Digital wajib membangun sistem keamanan sejak awal (safety by design) dan memberikan peringatan dini (warning) saat ada aktivitas mencurigakan, dan di sisi hilir atau benteng terakhir, Keluarga & Orang Tua bertugas menjaga rasa aman emosional anak di rumah, menyepakati aturan main penggunaan gadget, dan mendorong tingkat literasi digital anak agar tidak hanya mahir, tetapi juga tahu cara menjaga keselamatan dirinya.
Orang tua memang menjadi yang paling bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan anak di ruang digital, tapi tanggung jawab tersebut tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada satu pihak saja. Selain itu perlu upaya bersama untuk dapat meningkatkan kapasitas orang tua, khususnya terkait literasi digital dan pengasuhan anak di era digital.
Untuk video lengkapnya dapat ditonton di sini:
Orang tua memang menjadi yang paling bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan anak di ruang digital, tapi tanggung jawab tersebut tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada satu pihak saja. Selain itu perlu upaya bersama untuk dapat meningkatkan kapasitas orang tua, khususnya terkait literasi digital dan pengasuhan anak di era digital.
Untuk video lengkapnya dapat ditonton di sini:



Komentar
Posting Komentar