Ketika Anak SD Membuat Program Literasi Digital...

"Literasi Digital itu berarti harus dikuasai oleh orang tua juga, tidak hanya oleh anak-anak saja. Karena anak-anak itu masih menjadi tanggung jawab orang tua. Bagaimana anak-anak bisa paham literasi digital kalau orang tuanya sendiri tidak mengerti"

Kalimat tersebut di atas terlontar saat diskusi salah satu kelompok siswa kelas 6 Sekolah Bogor Raya (SBR), yang beranggotakan Mathew, Luke, Melvin dan Refio, ketika tengah melakukan exposure dengan pengamat Literasi Digital, Indriyatno Banyumurti dari ICT Watch. Diskusi ini merupakan salah satu tahapan kegiatan kelompok yang tengah menyusun project untuk tugas sekolahnya bertajuk "Digital Literacy". Yup, anak-anak kelas 6 di SBR ini selama bulan Juli sampai dengan September membuat tugas kelompok untuk gelaran PYP (Primary Years Program) Exhibition, bagian dari kurikulum sekolah yang mengadopsi sistem International Baccalaureate (IB). Ada 12 kelompok siswa, didampingi mentornya masing-masing, yang melakukan project dengan beberapa tema, seperti: Digital Literacy, Digital Citizenship, Gadget Addiction, Water Pollution, Management of Waste, De-stress, Cigarette Less, Bullying, Education for All dan Water Treatment. Tema-tema ini dirumuskan oleh para siswa yang diminta untuk melihat isu-isu yang ada di sekitar mereka, dan kemudian bersama mentornya, diputuskan sebagai tema project.



Bagian dari display Booth kelompok OSS pada saat Exhibition

Mathew, Luke, Melvin dan Refio kemudian membentuk kelompok yang mereka namakan Online Security System (OSS). Dan dengan bimbingan mentor Ibu Christina Damastuti, mereka mulai mengerjakan project dengan tema Digital Literacy. Ada beberapa tahapan yang mereka lalui dalam pengerjaan project ini:
  1. Penyusunan Latar Belakang Masalah (Background Problem)
  2. Menyusun daftar pertanyaan (List of Inquiries/LoI) terkait permasalahan tersebut
  3. Membuat Survey kepada siswa SBR terkait literasi digital
  4. Melakukan exposure dengan bertemu dengan pakar/praktisi untuk berdiskusi, menemukan jawaban dari berbagai hal terkait project yang dikerjakan
  5. Menyusun rencana aksi (action plan), dengan menyusun proposal kegiatan dan menyampaikannya ke pihak sekolah
  6. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana aksi yang telah disusun
  7. Melakukan evaluasi dan refleksi atas pelaksanaan project

Infografis Digital Literacy karya kelompok OSS

Antusiasme tinggi dari setiap anak di dalam kelompok terasa di setiap tahapan yang mereka lakukan. Diskusi hangat hadir di antara angggota kelompok dalam penentuan latar belakang masalah dan penyusunan LoI. Pertanyaan survey disusun oleh mereka dengan panduan dari mentor, lalu masing-masing anggota kelompok menyebarkan ke 10 responden (total 40 responden dari kelas 4 s.d 6). Berikutnya, kegiatan exposure dilakukan dengan sebelumnya menyusun daftar pertanyaan untuk narasumber, dan ketika diskusi berlangsung, pertanyaan berkembang sesuai dengan kondisi yang ditemukan siswa-siswa ini di kehidupan mereka. Ada dua narasumber yang dihadirkan yaitu Indriyatno Banyumurti, pengamat literasi digital dari ICT Watch dan Lia Herawati, Youtuber dari Noia Creative.



Beberapa pertanyaan yang diajukan mulai dari definisi literasi digital, sasaran dari program edukasi literasi digital, konten-konten yang digunakan dalam program tersebut, rujukan untuk mempelajari literasi digital, dampak internet bagi anak, positif dan negatifnya penggunaan internet dan lain sebagainya. Pertanyaan tersebut terus berkembang di dalam diskusi, misalnya bagaimana peran orang tua dalam edukasi literasi digital, pentingnya orang tua memahami literasi digital karena mereka yang bertanggung jawab terhadap pendidikaan anak, bentuk edukasi yang cocok di setiap kelompok usia dan sebagainya.


Dari hasil exposure ini kemudian disusun sebuah rencana aksi (action plan) yang diajukan ke pihak sekolah untuk mendapat persetujuan sebelum dieksekusi. Kelompok OSS ini kemudian membuat dua kegiatan untuk mendukung project mereka, yang pertama adalah Lapak Bermain. Mereka mengundang rekan-rekannya untuk mengunjungi lapak bermain yang telah mereka siapkan menggunakan Ular Tangga Internet Sehat dan Acak Kata. Siswa yang hadir diajak untuk bermain sembari menyampaikan pendapatnya tentang pesan-pesan yang ada di setiap kotak dalam ular tangga tersebut. Kelompok ini menyiapkan dua bentuk ular tangga yang bisa dimainkan: karpet ukuran 3x3 meter yang diletakkan di atas lantai serta ukuran kertas kecil untuk dimainkan di atas meja. Dari umpan balik peserta permainan ini dapat dilihat bahwa mereka senang karena mendapatkan pelajaran tentang internet dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.

Aksi/kegiatan kedua yang adalah Parents Sharing Session: Digital Literacy for Family. Pada aksi ini, kelompok OSS mengundang para orang tua murid dalam sebuah kegiatan workshop, dimana mereka melakukan presentasi tentang project mereka dan temuan yang didapat. Kemudian orang tua tersebut juga mendapatkan sharing terkait Digital Parenting yang disampaikan oleh Banyumurti (ICT Watch). Di kesempatan ini, juga diperkenalkan infografis tentang digital literacy yang merupakan hasil karya kelompok ini berdasarkan hasil perumusan selama project ini berjalan.


Kelompok OSS menerangkan project-nya kepada pengunjung booth

Mencoba Ular Tangga Internet Sehat di booth "Digital Literacy"

Akhir dari project ini ditandai dengan gelaran exhibition pada tanggal 12 September 2019, yang menampilkan booth dari semua kelompok. Di dalam booth tersebut setiap anggota kelompok menerangkan project ini kepada setiap pengunjung yang hadir mulai dari penentuan tema sampai aksi yang dilakukan. Selain itu pengunjung juga dipersilakan untuk mencoba permainan yang sudah mereka implementasikan di Lapak Bermain seperti Ular Tangga Internet Sehat. Kegiatan exhibition yang juga dihadiri oleh Walikota Bogor, Bima Arya, ini mendapat apresiasi luar biasa dari para pengunjung yang hadir mulai dari orang tua murid, siswa dan guru dari sekolah lain, dan undangan lainnya.

Kelompok OSS bersama mentornya
Bagaimana siswa SD Sekolah Bogor Raya ini menjalankan project ini memang layak mendapat acungan jempol. Daya pikir kritis ketika mendefinisikan masalah sampai menelurkannya dalam bentuk rencana aksi tampak terlihat di masing-masing individu. Rumusan akhir berupa aksi kegiatan juga sangat bernilai, dan sangat mungkin untuk dapat diadopsi atau diduplikasi bagi kegiatan literasi digital di sekolah-sekolah lainnya

Komentar

Posting Komentar